Identitas Korban Teror WTC Terkuak Setelah 16 Tahun – Sudah 16 tahun peristiwa teror gedung menara kembar World Trade Centre (WTC) berlalu. Sebanyak 2.753 orang tewas di Ground Zero pada hari itu, 11 September 2001. Ledakan akibat tubrukan dua pesawat ke menara kembar World Trade Centre (WTC), api yang berkobar, baja yang leleh, serta puing-puing yang ambrol memerangkap jasad sebagian korban.

Para korban yang ditemukan, mereka tak lagi utuh, hanya menyisakan fragmen yang sulit diidentifikasi, akibat efek panas, bakteri, dan kontaminasi bahan-bahan kimia, termasuk dari bahan bakar pesawat. Belakangan, 16 tahun kemudian, teknologi DNA terbaru menguak identitas jasad seorang pria korban serangan teror 9/11.

Pria tersebut menjadi korban ke-1.641 yang berhasil diidentifikasi, dari 2.753 manusia yang tewas di Ground Zero, dalam rangkaian serangan teror terbesar yang pernah melanda Amerika Serikat. Atas permintaan anggota keluarganya, nama korban tidak dipublikasikan, demikian menurut pihak Office of the Chief Medical Examiner, yang menguji ulang DNA dari fragmen jenazah yang didapatkan pada 2001 itu.

Hampir 22 ribu sampel dari bagian tubuh manusia yang didapatkan di Ground Zero yang diuji berulang kali sejak 2001, sebagai upaya untuk mengidentifikasi korban. Sejauh ini masih ada 1.112 atau sekitar 40 persen jasad korban tewas yang belum diidentifikasi — hampir 16 tahun setelah serangan teror 9/11 terjadi.

Sementara, sekitar 100 korban dilaporkan tak punya anggota keluarga yang masih hidup, yang bisa berpartisipasi dalam proses identifikasi. Padahal, para ilmuwan harus mencocokkan DNA korban dengan kerabatnya yang sedarah. Teknik terbaru, dengan menggunakan DNA yang disarikan dari fragmen tulang, digabungkan dengan teknologi pengujian yang lebih sensitif memberikan harapan bagi pengungkapan identitas korban 9/11.

Pekerjaan yang sedang kami lakukan sangat penting untuk menguak identitas korban. Kami bertekad memberikan jawaban pasti pada keluarga yang mengalami kehilangan luar biasa,” kata Dr. Barbara Sampson dari Office of the Chief Medical Examiner New York pada kepada Times. Pengungkapan identitas terakhir dilakukan pada Maret 2015 lalu, atas fragmen jenazah yang dipastikan menjadi milik Matthew Yarnell.

Menurut New York Daily News, pria yang saat kejadian teror 9/11 berusia 26 tahun itu bekerja di Fiduciary Trust Company International. Ia tak mampu melarikan diri saat menara kembar yang menjulang tiba-tiba runtuh. Saat gedung berlantai 110 ini menghujam bumi, sebuah benda misterius berwarna putih terang tiba-tiba melayang jauh dari area Ground Zero. Banyak yang menganggap, itu arwah korban teror 9/11 masih bergentayangan di lokasi kejadian. Bahkan di antara mereka mengaku pernah melihat ‘penampakan’ itu.

Dua pesawat yang ditabrakkan ke menara WTC di New York City, satu kapal terbang yang ditubrukkan ke Pentagon di Virginia dan satu lagi di Pennsylvania, menewaskan hampir 3.000 nyawa dan melukai ribuan lainnya. Bahkan sejumlah orang mengaku melihat arwah-arwah korban di dalam lokasi kejadian , terutama di bekas lokasi menara WTC.

Salah satu kisah datang dari seorang mantan petugas Kepolisian New York (NYPD), Letnan Frank Marra. Ia mengaku melihat sosok perempuan keturunan Afrika berseragam layaknya petugas Palang Merah saat Perang Dunia II sedang memegang baki berisi sandwich. Sosok itu diduga tak kasat mata.